Berderai Air Mata, Sukmawati Minta Maaf ke Seluruh Umat Islam


Sukmawati Soekarnoputri menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam yang merasa tersinggung atas puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang ia bacakan di ajang Indonesia Fashion Week 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.

“Karena karya sastra dari Puisi Ibu Indonesia ini telah memantik kontroversi di berbagai kalangan, baik pro dan kontra khususnya di kalangan umat Islam. Dengan ini, dari lubuk hati yang paling dalam, saya mohon maaf lahir batin kepada umat Islam Indonesia, khususnya bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan dengan Puisi Ibu Indonesia,” ujar Sukmawati sambil sesenggukan menahan tangis di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat.

Menurut Sukmawati Soekarnoputri, puisi tersebut dibacakan karena mengikuti tema pagelaran busana yang berlangsung.

“Saya sebagai seniman dan budayawan, ini murni karya satra saya mewakili pribadi tidak ada niatan menghina Islam dengan puisi. Saya muslim yang bangga dengan keislaman,” tegas Sukmawati Soekarnoputri.

Puisi Ibu Indonesia dijelaskan Sukmawati Soekarnoputri bersumber dari buku yang ditulisnya berupa kumpulan puisi Ibu Indonesia yang diterbitkan 2006 lalu.

Permintaan maaf Sukmawati Soekarnoputri juga tersebar di pesan whatsapp. Ada lima poin yang dijelaskan Sukmawati Soekarnoputri atas puisi Ibu Indonesia yang dibacakannya.

“Saya mohon maaf lahir batin kepada umat Islam di Indonesia khususnya bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan atas puisi Ibu Indonesia”, petikan poin kelima permintaan maaf Sukmawati Soekarnoputri.

Pada poin kedua permintaan maaf Sukmawati Soekarnoputri juga mengaku bangga sebagai muslimah dan keislamannya.

Sukmawati Soekarnoputri juga menjelaskan sosok ayahanda, Presiden RI ke 1, Soekarno yang merupakan tokoh ormas Islam, Muhammadiyah dan NU.

“Saya mewakili pribadi, tidak ada niatan untuk menghina umat Islam Indonesia dengan puisi Ibu Indonesia”

“Saya adalah seorang muslimah yang bersyukur dan bangga akan keislaman saya, putri seorang proklamator Bung Karno yang dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan juga tokoh yang mendapatkan gelar dari Nadhatul Ulama sebagai Waliyul Amri Ad Dharuri Bi Assyaukah (pemimpin pemerintahan di masa darurat yang kebijakan-kebijakannya mengikat secara de facto dengan kekuasaan penuh)”, tertulis dalam poin permintaan maaf Sukmawati Soekarnoputri.