Mengapa Polwan Asal Binjai tidak Diperbolehkan Adopsi Bayi yang Ia Temukan di Parit?

“Aturan di kota Binjai anak terbuang / terlantar hanya bisa diadopsi oleh warga yang beragama mayoritas. (peraturan pemerintah no 54 tahun 2007)

Karena alasan itu Kadis Sosial Binjai H T Syarifuddin seorang bayi yang diketemukan hampir mati kedinginan dalam kardus yang terbuang di parit tidak dibenarkan diadopsi oleh seorang polwan yang beragama Kristen. Anak itu kemudian diserahkan Ke panti asuhan di Medan.

Banyak yang protes soal aturan itu namun pemko Binjai tak open
maaflah dunia…. tak sanggup aku melepas mu

Satu bulan aku bersamamu di rsu Djoelham Binjai. Dan tidak bisa mengadopsimu….. Maafkanlah….. Tah kapan lagi kita berjumpa.” Berdasarkan kasus ini, TribunWow.com pun mencoba menelisik PP tersebut.

Dalam PP Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, memang tertulis secara eksplisit aturan tersebut, tepatnya di Pasal 3 ayat 2. PP tersebut berbunyi, “Dalam hal asal usul anak tidak diketahui, maka agama anak disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat.”

Namun, peraturan ini tidak hanya berlaku di Kota Binjai, Sumatera Utara, tetapi juga berlaku di seluruh Indonesia.

PP ini disahkan oleh Presiden yang sedang menjabat pada waktu itu, Susilo Bambang Yudhoyono pada 3 Oktober 2007 lalu.(tribunnewscom)